DADA ROSADA SENGAJA MEMBANJIRI BANDUNG DENGAN SAMPAH
Memang mudah mengkambinghitamkan runtuhnya TPA Leuwigajah sebagai penyebab utama membanjirnya sampah di Kota Bandung. Hal tersebut mudah diterima warga Masyarakat Bandung karena memang awal banjirnya sampah di Kota Bandung terjadi setelah runtuhnya Leuwigajah.
Selanjutnya coba disimak urutan cerita berikut: Pemerintah Propinsi Jawa Barat, tergerak untuk mencarikan lahan pengganti TPA Leuwigajah dan didapatkan lahan di Sarimukti, sebuah lahan milik Perhutani. Akhirnya antara Perhutani dengan Pemerintah Jawa Barat sepakat, bahwa Sarimukti dimanfaatkan sebagai TPA bagi Kota Bandung, Cimahi dan Kabupaten Bandung. Untuk itu Pemerintah berkewajiban membayar kompensasi sebesar 4 Miliar Rupiah. Dasar kompensasi adalah penggantian jumlah tegakan pohon yang ditebang.
Apabila pikiran Dada Rosada bersih dan dengan mempertimbangkan sulitnya mendapatkan lahan TPA serta membanjirnya sampah di Bandung, semestinya akan memelihara keberadaan Sarimukti sebagai fungsi TPA sebelum didapatkan solusi yang lebih baik. Namun kenyataannya sampai dengan sekarang Dada Rosada tidak mau membayar atas hutang kompensasi ke Perhutani dengan alasan TPA tersebut tidak hanya dipakai Kota Bandung. Aneh memang, apa sulitnya kompromi dengan Bupati Bandung dan Walikota Cimahi, kalau nggak salah Bupati Bandung dan Walikota Cimahi merupakan figur terhormat yang punya malu bila ngemplang hutang kompensasi.
Pada saat Bandung banjir sampah, ada yang menawari penyelesaian sementara dengan menyewa “Mobile Incinerator” (alat pembakaran sampah yang dapat dipindah tempat dengan ditarik mobil) yang akan terus bergerak dari TPS ke TPS untuk memusnahkan sampah. Biaya yang dibebankan adalah sebesar biaya angkut dari TPS ke TPA. Hebatnya Dada Rosada dengan halus dan manisnya menolak tawaran baik tersebut. Selain itu berbagai pihak berkompeten juga banyak yang ikut prihatin dan bertanggung jawab untuk membantu dalam berbagai konsep namun semuanya ditolak.
Saat itu banyak yang bertanya-tanya, apa yang ada di dalam pikiran Dada Rosada? Ada rencana apa dibalik membiarkan sampah membanjiri Kota? Akhirnya terjawab, Dada Rosada membuat keputusan populis untuk mengkonversi sampah menjadi energi listrik (PLTSa). Keputusan populis dikarenakan pada umumnya Masyarakat Indonesia sangat mengagumi dengan yang namanya teknologi tinggi dan berbau luar negeri. Dikhawatirkan keputusan tersebut hanyalah merupakan tunggangan politis Dada Rosada dengan menggali simpati Masyarakat (pokoknya teknologi tinggi dan pertama di Indonesia).
Yaahhhh, ternyata Bandung sengaja dibanjiri sampah agar Masyarakat Bandung tertekan, sehingga mudah dipengaruhi bahwa PLTSa adalah satu-satunya solusi sampah di Bandung. Selanjutnya untuk meningkatkan peringkat PLTSa, maka Masyarakat ditakut-takuti bahwa ada kemungkinan Sarimukti ditutup oleh Perhutani. Ya iya lah namanya juga hutang kompensasi ke Perhutani tidak dibayar sama Dada Rosada alias ngemplang. (Redaksi Gemes)